Tuesday, July 12, 2011

Adek Kecil dan Sehelai Kertas


Assalamualaikum. .

Mungkin sudah menjadi kebiasaan, kalo mau menulis atau sejenisnya (versi isnan), pasti diinisiasi sama yang namanya kegalauan, kesedihan, mungkin suatu pengalaman menarik, dan ini tadi :

 “Sesuatu yang mengajarkan tentang bersyukur”

Diawali sama ketemu Dosen, waduuuh. .jan horor, karena sempet adu mulut, yang bahkan gak pernah aku lakuin ke sesama teman mahasiswa. Pokok intinya, di akhir pembicaraan yang agak panas dan lumayan nyeleneh itu, aku mendapatkan apa yang aku butuhkan, namun disertai dengan rasa tidak enak dan agak malu juga. Huff. .akhirnya sholat ashar, dan cukup menghibur juga. Nah setelah inilah, kisah sangat singkat dari seorang adek yang kurang beruntung di perempatan dekat fakultasku.

Aku keluar kampus, belok ke utara (Arah ke gunung merapi deh yang jelas), kesal juga karena lampu yang sedang hijau tiba-tiba berubah kuning. Aku berhenti, mengeluarkan handphone, dan melihat adek kecil yang meminta ‘sebagian rejeki’ ke pengendara di sebelahku. Sependengaranku, alhamdulillah dia mendapatkan sebagian rejeki itu. Dalam hatiku “aduh dompetku tertinggal, semoga si adek langsung ke belakang aja deh. .”

Subhanallah, dia berkata padaku, “Mas, minta kertasnya itu dong?”
Aku kira dia lagi menganalogikan “uang”, kemudian aku jawab,“Kertas yang mana dek?”
“Yang itu lo, yang gambar makanan dan masakan itu.”
Kemudian aku berikan kertas itu, dan tetap tersenyum menjaga hati adek itu.

Tahu gak itu kertas apa? Itu cuma kertas selebaran isinya Delivery Pizza dengan merk yang aku kurang tahu. Kertas yang cuma sekedar ‘sampah’ bagi kita, masih dianggap sebagai ‘sesuatu’ oleh orang lain. Dan betapa bodohnya, aku masih mengeluh tentang makan, tentang hal-hal lain yang seharusnya BENAR-BENAR HARUS DISYUKURI. Karena masih ada orang lain yang membutuhkan itu semua, dan sukar untuk mendapatkannya.

Beberapa hal yang aku pelajari dari pertemuan singkat ini:
1.      Bawalah sedikit uang receh saat bepergian. Ya memang kurang baik kalau kita memberi ke orang yang meminta-minta di jalanan. Ya alasannya sih tidak mendidik. Tapi apa salahnya sih membagi sedikit rejeki kita buat orang lain? Tahu kan, kadang uang 500 perak disepelekan begitu saja. Tapi, itu bisa saja sebuah batas hidup mati bagi orang lain. . Jadi marilah kawan untuk berbagi.
2.   Adek itu pasti lapar sekali, hingga sampai matanya mengamati gambar-gambar makanan itu. Semoga engkau mendapatkan rejeki hari ini, dan siapa tahu engkau kelak menjadi terinspirasi dengan makanan-makanan yang engkau lihat hari ini, dan menjadi orang yang hebat. Semoga =)
3.  Kembalilah untuk mensyukuri hal-hal kecil, yang kadang terlupakan. . Gak rugi kok bersyukur, melihat betapa sudah berkecukupannya kita, jangan lihat harta atau pangkat. Kita sudah cukup mendapat porsi oksigen sekian tahun lamanya, sekian liter air begitu lamanya, makanan, pakaian, keutuhan anggota badan, kelengkapan orang tua? Tidakkah itu begitu sederhana, dan kadang terlupa? Apalagi nikmat berupa waktu luang dan kesehatan.

Terima kasih adek kecil, kiranya engkau mengingatkan aku akan sesuatu yang baik.

Wassalamualaikum. .

1 comment:

  1. waah artikel yang bagus , ditunggu kelanjutannya yaa .

    Salam

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar. .