Tuesday, June 21, 2011

Beneran bingung apa judulnya. . .

 
Heei. . .Malaaaaam. .kok ketagihan ngetik ya. .apa gara-gara jari ini udah ga pernah mijit tuts piano lagi? Huhuhuhu. . .ya emang pengin banget si bias mainin piano dengan baik dan benar dan jadi maestro gitu, tapi kok malah vakum bentar nih. Yah perbaikan dari dalam dulu deh, kalo dah mantep dalemnya baru deh yang luar bias dibaguskan dengan sangat maksimal. ^^b Tapi santai jari-jariku sayang, kita masih practice bareng kan, jadi jangan khawatir ntar kaget waktu main lagi kaya dulu. Hoho

Ya. .mau sedikit share aja hal yang tadi aku dapet dari kajian. Disampein dengan bahasa yang sedethana aja ya, soalnya aku bukanlah orang yang berkualifikasi untuk hal-hal serperti itu. Tapi gak baik juga kan kalo Cuma disimpen sendiri. Minimal orang-orang terdekat dapet sedikit nasihat kan? Kaya sodara-sodara dan teman-teman.

Kurang lebihnya seperti ini, yang aku dapat dari kajian tadi adalah
  1. Kadang kita sudah melakukan sesuatu dengan benar tetapi kita cuma sekedar tahu saja kalau itu benar, tetapi tidak tahu tuntunan sebenarnya. Terlihat sama saja kan andai kita juga tahu tuntunanya, toh juga kita gak salah? Wee. .emang bener sih secara teknis gak salah. Tetapi dalam tingkat hati (Inget tadi fosforilasi tingkat substrat, haha), kedua hal itu cukup berbeda. Dengan kita tahu tuntunannya, maka niat kita pun pasti berubah, apalagi kalau hal itu adalah salah satu tuntunan dari Rosul. Jadi yang semula niat kita hanyalah melakukan hal tersebut, namun setelah kita tahu tuntunannya kita jadi berniat untuk mengikuti sunnah Rosul. Dan mengikuti sunnah Rosul adalah sesuatu hal yang dianjurkan bukan? Ya akhirnya apa yang kita lakukan pun lebih bermaknya. Merasa lebih dekat dengan Rosul juga (Meski masih jauuuuuh banget, hikz). Dan tentunya juga dapat balasan baik juga.
  2. Contoh pada poin satu yang tadi dijelasin adalah sebatas gerakan-gerakan sholat yang sesuai dengan yang dilakukan oleh Rosul. Ya, kita udah tahu gerakan-gerakan itu bahkan sejak SD. Tapi gak ada salahnya kan kalau mengetahui lagi hal yang sederhana namun urgent itu. (Huaaa. .Cuma berdasar catetan sih). Bingung ngerangkainya, tapi aku ngerti sih apa yang dimaksudin sama Pak ustadnya. .hoho. . T_T ya udahlah, mending jangan. Akhirnya ganti deh nasehatnya >> Banyakin datengin kajian illmu agama yang terpercaya, jadinya bias bagi-bagi ilmu ke orang-orang terdekat. Apalagi kalo kalian dikarunia pemahaman yang luar biasa, sehingga sekali dijelasin pun kalian bias langsung mengerti dan bisa menyampaikannya dengan gambling ke orang lain.
  3. (Mulai geje lagi ni) Jangan tidur. Sempetin nyatet waktu kajian berlangsung. Samperin orang di deket kalian trus saliman. Syukur-syukur kenalan, meski rada-rada kagok di awal. Ya semakin ada kenalan kan jadi nyaman tuh buat dating-dateng lagi ke kajian itu.
  4. Subhanalah, meski tujuan dateng kajian ini biar dapet ilmu agama, ternyata bias dari kedatanganku ke suatu kajian adalah mendekatkan pada kebaikan, jadi kita tu ingetnya bukan hal-hal yang buruk, tapi cukuplah yang positif aja. Pernah denger ini kan, kurang lebih “Sibukkanlah diri kalian dengan hal-hal yang positif, atau kalian akan tersibukkan dengan hal-hal yang tidak baik”. Alhamdulillah memang seperti itulah adanya. Dengan kita mengisi dengan hal-hal berguna, baik, agak berguna, bla3x pokok bukan yang jelek, kita akan semakin mudah untuk menghindari pada hal-hal yang buruk itu.
  5. YANG AGAK BEGO, masa ya alesanku dateng ke acara kajian rutin itu adalah dapet makanan coba. . . . lucu kan ya, tapi beneran, makanannya tu cuman sepotong gorengan dan segelas teh hangat, kalo ini tadi dapet sebungkus nasi plus lauk dan segelas teh. Sederhana kan ya menunya. .tapi rasanya itu lo, kok kayaknya nikmat banget. Seakan-akan makan beberapa posrsi makanan resto gitu (lebai dikit). Tapi ya enak aja gitu makan menu sama, bareng-bareng sama orang-orang dari berbagai kalangan, dan yah makannya sambil duduk bersila gitu di lantai. Cool abis deh. =)
  6. Yaa. .dampaknya adalah pulang ke rumah dengan senyuman yang cukup lebar, yang dateng dari hati, dan akhirnya sisa malam pun terasa lebih bermakna.
 
Mari yuk, kembali ke masa-masa SD yang terlupa. Inget kan waktu kecil dulu kita sering dateng ke TPQ buat menimba ilmu agama, belajar alquran bareng, dan hal-hal positif lainnya? Nah sekarang meski udah gedhe kan juga masih wajib juga menuntut ilmu, jadi mariiii. . . . Dan sebagian orang yang lebih mampu, yang memang udah mumpuni buat ngajar, ajarin dong itu adik-adik di mesjid-mesjid kampung. Yah semoga yang di kota pun adik-adik juga pada senang ke tempat-tempat yang baik ini.

Hohoho, kok ndingaren ya (kebetulan ya) isnan ndak menulis sesuatu yang berbau geje gitu? Hehehehe. . ya gapapa kan ya?? Masa tiap hari geje terus (bilangnya temen-temen si gitu).

“Hei mata gimana kabarnya?”
“Baik boss, sudah melihat hal-hal yang baik, kurangin liat yang gak baik ya. . Hmm pengin liat Beethoven Virus lagi nih.”
“=________= hadeh mataaa. . . . Kalo kamu idung?”
“Alhamdulillah boss, sudah mencium aroma teh hangat yang diberikan dengan ikhlas dan dengan cinta, maka itu adalah sedekah buat kita, dan Insya Allah barokah buat kita juga.”
“Wao keren kata-katamu idung.”
“Woyadong, apalagi abis tadi siang membaui hal menjijikkan di kampus gitu. . benar-benar jadi refresh.”
“Hahah, kamu tersiksa maka akupun jua. Dan bagaimana kau telinga?”
“Yang kiri apa yang kanan boss? Hehehe. Lagi nikmatin Croatian Rhapsody ni. .keren ya? Haha. Yup alhamduliilah tadi sudah mendengarkan hal yang baik-baik, Insya Allah kita pasti diberi kemudahan dalam mengingat setiap kata-kata yang terucap dari mulut orang baik dan berilmu.”
“Subhanallah. . .sungguh indah. .dan engkau mulut?”
“Maaf sebelumnya boss. . tapi engkau sadar kan? Ada satu bagian darimu yang mungkin tidak sehebat yang lainnya? Ya, itulah aku wahai tuanku. . tidak lah sehelai kata-kata keluar dariku namun hanyalah sesuatu yang biasa saja, mungkin sedikit nasehat bagi saudara-saudaramu, sedikit senyuman bagi yang engkau sayangi, tapi aku tak pernah mampu merangkainya dengan indah. Kesepuluh jarimu lebih mahir dalam mengungkapkan apa yang ada di hati kita. Jadi andai engkau membutuhkan sesuatu, mintalah kepadanya?”
“Wahai mulut, bukankah kita diciptakan sempurna? Jadi mengapa engkau mengeluh? Tak apalah, namun apa salahnya mencoba?”
“Hikz. .aku tak punya mata untuk menangis, aku tak punya tangan untuk mengusapku, tapi aku punya kemampuan untuk melenturkan sisi bibirku sehingga aku pun tersenyum dan menebarkan sedekah pada sekitar. Terima kasih tuan.”
“Sama-sama mulut. Bukankah kita semua adalah kesatuan? Wahai mata, hidung, telinga, mulut?”
“YAAAAAAA!!!!”

Jari-jari pun terus menulis, karena dia tahu apa fungsinya sekarang, dia akan terus menulis, menulis, dan menulis.
“Aku tahu fungsiku, dan aku tidak akan melakukan apa yang bukan hakku, dan wahai kaki, berjalanlah ke tempat-tempat yang baik-baik saja. Dan ingatlah untuk rajin ke rumah Allah, bawalah kita semua ke tempat yang baik. Dan ingatlah juga untuk melihat hamparan bumi yang luas ini, lihatlah pantai, lihatlah hutan, lihatlah gunung, lihatlah langit dan bintang-bintang indahnya itu. Sungguh itu semua adalah berkah untuk kita semua.”

“Yup cukup, marilah sekarang kita ngegame bentar.”
“Hohohohohohohohohohoho. .capek deh bosss. . . . .”

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar. .