Saturday, December 18, 2010

So What? I have my own life

Suatu waktu, seekor semut terjatuh dari tebing yang tinggi. Dia melihat jauuh di atas sana, tempat dia bertempat tinggal,
"Rumahku yang kurindukan, sungguh andai aku mampu, hingga mati pun pasti akan kupanjat tebing ini untuk mencapaimu. Tempat aku dilahirkan, dibesarkan, merasakan keindahan kasih sayang. Serta tempat dimana aku merasakan cinta, meski aku tahu dia tak akan pernah mencintaiku."
Maka dalam kesendirian, semut pun berjalan ke puncak tebing. Belum lama dia berjalan, ditemuinya seekor kumbang.
"Wahai semut, apa yang engkau lakukan? Engkau tidak berpikir untuk memanjat tebing ini kan?"
"Justru itu Wahai kumbang, aku ingin mencapai puncaknya."
Kumbang pun tertawa terbahak-bahak.
"Engkau gila? Menyerahlah, buatlah koloni barumu di dasar jurang ini. Disini engkau akan bahagia, tidak akan ada angin kuat yang meniupmu."
"Tidak kawan. Bukan disini tempatku. Dan tidak disini pula berada semut yang aku cintai."
"Silahkan kawan, saat engkau sampai pun dia pasti sudah memiliki keluarga sendiri, dan melupakanmu."
Si semut pun tak menghiraukan kata-katanya, dan melanjutkan perjalanan panjangnya. Dalam perjalanannya dia berpikir, dan berpikir, sampai akhirnya dia tersandung akar semak, dan terjatuh.
"Aduuhh! Tolong!"
Saat dia melihat lukanya, dia menyadari bahwa dia sendirian, diapun mengobati luka-lukanya sendiri. Sudah mulai petang saat dia menyadari sesuatu,
"Apakah dia peduli, apakah dia mengerti, aku selalu berusaha menyayanginya. Aku tak pernah memujanya, aku hanya menyayanginya. Aku membantunya, tapi tak pernah menjadi pembantunya. Aku nasehati dia, tapi tak pernah mengguruinya. Namun sepertinya dia punya Semut lain pilihannya. Aku tahu itu, meskipun aku tak pernah mencari tahu.
"Aku sempat melupakannya, tapi aku mengingatnya kembali. Tapu apakah dia peduli? sepertinya tidak. Atau memang dia peduli? dan hanya saja aku terlalu bodoh. ."
Semut pun mulai berjalan lagi terseok-seok. .
"Tolonng. .mungkin aku akan mati. Toloonng. ."
Dalam keadaan sekarat, dia berpikir,
"Mungkin benar apa kata sang kumbang, andai aku berhenti, dan menerima takdir, aku akan lebih bahagia. Bersama sebuah koloni di bawah sana. ."
Semut pun tersenyum dan menangis, di akhir sebelum dia menutup mata.
"Mungkin aku salah. Tapi aku akan tetap tersenyum. Aku akan tetap menyayanginya meski dia telah memilih. Atau memang tidak demikian? Siapa tahu dia memang mengharapkanku. Aku tidak akan pernah tahu. Dan siapa peduli?
"Ini adalah jalan yang aku pilih, bukan jalan sang kumbang atau semut yang kusayangi. Ini adalah pilihanku. Meski terlihat bodoh membuat diriku mati di tengah jalan. Tapi bagiku ini adalah kematian yang indah. Selamat tinggal. ."
Dan akhirnya, hanya tinggal beberapa ratus meter saja dari puncak, sang semut pun mati di tengah malam yang sepi, sunyi, dan berbintang. Jasadnya terkubur oleh debu, begitu pula jejaknya. Tidak ada bekas seekor semut yang berjuang hingga akhir.
Hanya semut 'terkasih' yang menyadari ketidakberadaannya. Dia berpikir sambil menangis,"Mungkin kau telah melupakanku, dan memilih yang lain."



NB: 'Nothing have been said' means 'that word is never there'

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar. .